Korban bencana Sumatra menyambut Lebaran dengan cemas: Imbas pemulihan belum efektif

● Lebaran di depan mata, tapi warga NONA88 Aceh masih dibayangi ancaman banjir susulan.

● Anggaran triliunan rupiah terasa percuma jika rumah warga tetap terendam saat hujan.

● Pemulihan NONA88 yang lambat bukan sekadar masalah teknis, tapi juga memicu kegelisahan sosial.

Idulfitri tinggal menghitung hari. Namun, pemulihan banjir Sumatra masih dihantui bencana susulan.

Pada awal Ramadan NONA88 , masih ada warga Pidie Jaya di Aceh yang salat tarawih di masjid yang kebanjiran. Warga Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, juga sudah tiga kali terkena banjir lanjutan.

Di Aceh Tengah, pembersihan material longsor belum selesai karena alat berat terbatas.

Cerita-cerita dari tapak ini berbeda dengan narasi yang datang dari pusat: pembentukan satuan tugas, kejar keras sebelum lebaran, hingga guyuran dana puluhan triliun.

Namun, rencana hebat itu belum jadi penyelamat bagi keseharian banyak warga terdampak bencana di Sumatra. Anggaran raksasa hanya nampak wah di dokumen saja. Sebab faktanya, masyarakat tetap cemas tiap kali langit mendung.


Kebijakan berlawanan dengan kenyataan Nona88

Secara total, banjir Sumatra menewaskan 1.204 orang, memaksa 257,6 ribu jiwa mengungsi, serta menimbulkan NONA88 kerusakan dan kerugian lebih dari Rp192 triliun.

Untuk memulihkan daerah terdampak, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menaksir pemerintah membutuhkan dana lebih dari Rp205 triliun. Angka ini bahkan lebih besar dari estimasi kebutuhan pascatsunami Aceh 2004 sebesar Rp51,7 triliun.

Pemerintah meresponsnya dengan menyusun rencana induk nasional berbasis risiko untuk pemulihan selama tiga tahun hingga 2028 mendatang. Pemulihan mengusung prinsip pembangunan yang lebih baik, aman, dan berkelanjutan dan mencakup rehabilitasi serta rekonstruksi.



NONA88